JAKARTA, AYOKARAWANGA.COM - Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) menyampaikan seruan dan pernyataan sikap menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026. Dalam pernyataannya, aliansi ini mengangkat tema besar perlawanan terhadap kapitalisme, imperialisme, dan militerisme, serta menegaskan tuntutan untuk mewujudkan kerja layak, upah layak, dan hidup layak bagi seluruh buruh dan rakyat Indonesia.
Seruan tersebut ditujukan kepada rakyat Indonesia secara luas, termasuk media online dan cetak, media alternatif, jaringan rakyat, serta berbagai organisasi rakyat di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari upaya membangun konsolidasi gerakan menjelang May Day 2026, berikut pernyataan sikapnya:
I. MAY DAY DAN KRISIS GLOBAL KAPITALISME
Hari Buruh Internasional (May Day) merupakan tonggak sejarah perjuangan kelas buruh dunia melawan sistem kapitalisme yang menindas. Sejak abad ke-19, buruh telah berjuang menghadapi kondisi kerja yang eksploitatif—jam kerja panjang, upah rendah, serta represi negara yang berpihak pada kepentingan modal.
Perjuangan tersebut melahirkan tuntutan universal: pembatasan jam kerja, perlindungan tenaga kerja, dan pengakuan terhadap hak-hak dasar buruh.
Namun, lebih dari satu abad setelahnya, realitas menunjukkan bahwa eksploitasi tidak pernah benar-benar hilang. Kapitalisme hanya bertransformasi, mengadopsi bentuk-bentuk baru yang lebih fleksibel dan sistematis dalam menindas. Hari ini, dunia sedang menghadapi krisis kapitalisme global yang semakin dalam—ditandai dengan konflik geopolitik, instabilitas ekonomi, krisis energi, serta meningkatnya ketimpangan sosial.
Ketegangan antar kekuatan global, perebutan sumber daya strategis, serta eskalasi konflik bersenjata menunjukkan bahwa kapitalisme tidak hanya menghasilkan ketidakadilan ekonomi, tetapi juga kekerasan struktural dalam skala global. Dampaknya sangat nyata: lonjakan harga energi, inflasi yang menekan daya beli, serta ketidakpastian ekonomi yang meluas. Dalam setiap krisis tersebut, kelas buruh selalu menjadi pihak yang paling terdampak. Buruh menjadi “penyangga krisis” melalui pemutusan hubungan kerja, penurunan upah, serta memburuknya kondisi kerja. Hal ini menegaskan bahwa krisis yang terjadi bukanlah fenomena sementara, melainkan konsekuensi inheren dari sistem kapitalisme itu sendiri.
Krisis kapitalisme hari ini bukan sekadar gejala ekonomi, melainkan konsekuensi logis dari watak dasarnya: produksi tanpa batas demi akumulasi keuntungan. Dalam kerangka Kapital, sistem ini digerakkan oleh dorongan memperbesar nilai lebih, sehingga produksi terus ditingkatkan tanpa mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat.
Akibatnya, lahirlah krisis overproduksi—barang melimpah, tetapi tidak terserap karena mayoritas kelas pekerja justru dimiskinkan dan kehilangan daya beli.
Kontradiksi ini menciptakan kondisi yang bisa disebut sebagai anarki produksi: tidak ada perencanaan sosial yang rasional, melainkan produksi yang dikendalikan oleh kepentingan profit segelintir kelas pemilik modal. Ketika pasar jenuh dan keuntungan menurun, kapital tidak berhenti—ia mencari jalan keluar melalui ekspansi eksternal.
Di sinilah imperialisme beroperasi. Seperti dijelaskan dalam teori dan sudut pandang progresif, kapitalisme pada tahap lanjut akan mengekspor krisisnya ke luar: membuka pasar baru, menguasai sumber daya, dan mengeksploitasi tenaga kerja murah di negara-negara dunia ketiga.
Negara-negara berkembang dijadikan ruang penyangga krisis—tempat upah ditekan, regulasi dilonggarkan, dan sumber daya diekstraksi secara masif.
Namun ketika ekspansi ekonomi tidak lagi cukup, konflik terbuka—bahkan perang—menjadi instrumen lanjutan.
Perang dalam konteks ini bukan sekadar konflik politik, melainkan bagian dari restrukturisasi kapital: menghancurkan kelebihan kapasitas produksi, membuka pasar baru, dan menggerakkan industri strategis seperti energi dan persenjataan.
Dalam keseluruhan proses ini, kelas pekerja menjadi korban utama. Buruh menghadapi PHK, penurunan upah, dan memburuknya kondisi kerja, sementara rakyat di negara dunia ketiga menanggung beban eksploitasi ganda: sebagai tenaga kerja murah sekaligus sebagai wilayah ekstraksi sumber daya.